Bupati dan Wabup Rokan Hilir Kunjungi Pulau Jemur, Destinasi Bahari Perbatasan yang Mempesona

#JAGOK #ROHIL

Bupati dan Wabup Rokan Hilir Kunjungi Pulau Jemur, Destinasi Bahari Perbatasan yang Mempesona
Bupati dan Wabup Rokan Hilir Kunjungi Pulau Jemur, Destinasi Bahari Perbatasan yang Mempesona

JAGOK.CO - ROKAN HILIR - Bupati Rokan Hilir, Bistamam, bersama Wakil Bupati Jhony Charles, jajaran Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Dumai, serta sejumlah pejabat Pemkab Rohil menggelar kunjungan kerja ke Pulau Jemur, Sabtu (11/5/2025). Pulau Jemur merupakan salah satu pulau terluar Indonesia di Selat Malaka yang kaya potensi pariwisata bahari sekaligus bernilai strategis dalam konteks geopolitik.

Perjalanan menuju Pulau Jemur dimulai pukul 09.15 WIB menggunakan kapal cepat berkapasitas 70 penumpang. Lokasi pulau ini hanya berjarak sekitar 30 mil laut dari perairan Malaysia—lebih dekat dibandingkan dari Bagansiapiapi, ibu kota Kabupaten Rokan Hilir, yang berjarak sekitar 60 mil laut.

Setibanya di dermaga, rombongan disambut dengan prosesi jajar kehormatan oleh personel TNI AL. Suasana hangat dan khidmat pun menyelimuti kunjungan yang sarat makna ini.

Komandan Lanal Dumai, Kolonel Laut (P) Abdul Haris, memberikan pemaparan komprehensif tentang topografi Pulau Jemur, potensi ekonomi, serta pentingnya menjaga kelestarian garis pantai. Menurutnya, pulau ini tidak hanya berperan sebagai pos strategis pertahanan negara, tetapi juga menyimpan peluang besar sebagai destinasi wisata bahari unggulan Provinsi Riau.

Bupati Bistamam tampak menyimak dengan antusiasme. Tatapannya menelusuri garis pantai seakan menyulam visi ke depan: menjadikan Pulau Jemur sebagai ikon pariwisata berbasis kelautan di Rokan Hilir. Ia menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mewujudkan pengembangan wilayah pesisir yang berkelanjutan.

Momen menyentuh terjadi saat para pejabat bersama anggota Jalasenastri melepaskan tukik atau bayi penyu ke laut lepas. Aksi simbolis ini menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung pelestarian penyu—satwa langka yang rutin bertelur di pantai-pantai Pulau Jemur.

“Setelah pergi, jangan lupa kembali ke Pulau Jemur,” seloroh Wakil Bupati Jhony Charles dengan nada bersahabat. Candaan yang menyiratkan pesan serius: manusia harus tetap menjaga keseimbangan alam meski menikmati keindahannya.

Kunjungan dilanjutkan ke pos jaga di puncak pulau. Rombongan menjelajahi area bekas bangunan seperti mess pemda, musholla, dan beberapa infrastruktur yang kini terbengkalai. Bangunan-bangunan tersebut menjadi saksi bisu geliat pembangunan yang pernah menyentuh pulau ini namun belum berlanjut.

Pemandangan dari ketinggian memperlihatkan vegetasi tropis seperti ketapang, kelapa, dan mangga yang tumbuh subur. Vegetasi ini mengingatkan akan masa lalu ketika Pulau Jemur digunduli demi alasan keamanan, agar tidak dijadikan tempat persembunyian bajak laut pada era 1980-an.

Secara ekologis, Pulau Jemur merupakan surga tersembunyi. Keheningan alamnya masih terjaga, pantainya berpasir kemerahan yang eksotis, dan perairannya kaya biota laut. Aktivitas snorkeling dan diving menjadi daya tarik utama bagi wisatawan yang ingin menyelami keindahan bawah laut Rokan Hilir.

Saat ini, sebanyak 11 unit rumah penginapan telah dibangun Pemkab Rohil. Tiap unit mampu menampung 5 hingga 10 orang. Uniknya, penginapan ini tidak dikenakan tarif inap, melainkan hanya iuran kebersihan. Konsep ini mencerminkan keberpihakan pemerintah pada aspek konservasi dan aksesibilitas wisata berkelanjutan.

Pulau Jemur memang masih perawan—sunyi, damai, dan nyaris tak tersentuh modernisasi. Menikmati senja dari gedung Mess Pemda bergaya vintage di atas bukit menjadi pengalaman tak terlupakan. Gedung itu seolah berdialog dengan langit, memantulkan siluet cahaya yang menenangkan batin.

Pukul 15.00 WIB, rombongan bertolak kembali ke Bagansiapiapi. Matahari mulai tenggelam perlahan. Sunset legendaris Pulau Jemur tak sempat kami nikmati. Telur-telur penyu yang tertimbun di pasir hangat pun belum sempat kami saksikan. Namun satu hal yang pasti: Pulau Jemur meninggalkan kesan mendalam—bukan sekadar tempat, melainkan pesan abadi tentang cinta, pelestarian, dan harapan.

Dari kejauhan, Pulau Jemur tampak seperti lukisan hidup: sebuah mahakarya alam yang bukan hanya untuk dikunjungi, tetapi juga dicintai dan dijaga selamanya.