Soeharto Pernah Permalukan Israel Demi Bela Palestina dan Yerusalem
Presiden Soeharto pernah mempermalukan Israel di forum OKI 1991 demi membela Palestina dan Yerusalem. Inilah kisah diplomasi berani Indonesia di panggung dunia.
JAGOK.CO — Dalam sejarah panjang diplomasi Indonesia, nama Presiden Soeharto dikenang sebagai salah satu pemimpin dunia yang paling berani membela rakyat Palestina. Tidak hanya berpidato keras di forum internasional, Soeharto juga mengambil langkah nyata yang mempermalukan Israel di hadapan para pemimpin dunia demi membebaskan Yerusalem dari penjajahan.
Pidato Soeharto yang Mengguncang Dunia di Forum OKI 1991
Dalam Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Konferensi Islam (OKI) tahun 1991 di Dakar, Senegal, Presiden Soeharto tampil dengan pidato yang mengguncang dunia Islam dan dunia Barat sekaligus.
Dengan suara lantang dan tegas, ia menyebut Israel sebagai negara arogan dan perampas tanah bangsa Arab, serta menegaskan bahwa Yerusalem atau Al-Quds adalah milik semua umat beriman, bukan hanya satu bangsa.
Pidato Soeharto di forum itu mencatatkan sejarah tersendiri. Banyak media internasional kala itu menyoroti keberaniannya menentang kekuasaan politik global yang selama ini mendukung Israel. Bahkan, beberapa diplomat Barat menyebut pernyataan Soeharto sebagai “tindakan diplomatik paling berani dari Asia Tenggara” terhadap isu Timur Tengah.
Langkah Nyata: Pengakuan Indonesia terhadap Palestina dan Pembukaan Kedubes di Jakarta
Keberanian Soeharto tidak berhenti pada pidato. Setahun sebelum forum OKI, Indonesia secara resmi mengakui kemerdekaan Negara Palestina pada 1988, tidak lama setelah proklamasi yang dibacakan oleh Yasser Arafat di Aljir.
Langkah ini mempertegas posisi Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia yang mendukung penuh perjuangan rakyat Palestina melawan pendudukan Israel.
Sebagai tindak lanjut, pada 1989, Indonesia membuka Kedutaan Besar Palestina di Jakarta, menandai hubungan diplomatik resmi dan persaudaraan yang mendalam antara kedua bangsa.
Langkah itu menjadikan Indonesia sebagai pelopor solidaritas Asia terhadap Palestina, sejalan dengan semangat Konferensi Asia-Afrika Bandung 1955 dan amanat konstitusi untuk menentang segala bentuk penjajahan.
Dampak Diplomatik dan Gema Politik Dunia
Sikap tegas Soeharto berdampak besar secara diplomatik. Hubungan Indonesia dengan beberapa negara Barat sempat menegang, namun Soeharto tetap teguh.
Bagi Soeharto, moralitas dan solidaritas lebih penting daripada tekanan politik internasional.
Pengamat hubungan luar negeri menilai kebijakan tersebut sebagai strategi memperkuat posisi Indonesia di dunia Islam sekaligus menegaskan politik luar negeri bebas aktif.
“Indonesia tidak akan pernah menutup mata terhadap penderitaan rakyat Palestina,” tegas Soeharto dalam sebuah wawancara pada awal 1990-an, sebagaimana tercatat dalam arsip Kementerian Luar Negeri RI.
Langkah ini juga mengangkat reputasi Indonesia di dunia Islam dan memperkuat posisi Soeharto sebagai pemimpin dunia Muslim yang berpengaruh pada masanya.
Warisan Diplomasi Abadi untuk Dunia Islam
Lebih dari tiga dekade berlalu, gema pidato Soeharto di forum OKI 1991 masih menggema hingga kini.
Sikap tegasnya menginspirasi para pemimpin Indonesia berikutnya untuk tetap konsisten mendukung Palestina di berbagai forum internasional seperti PBB, OKI, dan Gerakan Non-Blok (GNB).
Warisan diplomasi Soeharto menunjukkan bahwa kekuatan sejati suatu bangsa tidak hanya terletak pada militernya, tetapi juga pada keberanian moral membela keadilan.
Dalam konteks sejarah politik internasional, pidato dan tindakan Soeharto menjadi simbol bahwa Indonesia akan selalu berdiri di pihak yang benar, menentang penjajahan, dan membela kemerdekaan Palestina.























