Parade Militer China 2025: Xi Jinping, Putin, Kim Jong Un, dan Prabowo di Panggung Global

Parade Militer China 2025 jadi panggung geopolitik dunia. Xi Jinping, Putin, Kim Jong Un, dan Prabowo Subianto tunjukkan arah baru tatanan global.

Parade Militer China 2025: Xi Jinping, Putin, Kim Jong Un, dan Prabowo di Panggung Global
Parade Militer China 2025: Xi Jinping, Putin, Kim Jong Un, dan Prabowo Subianto Tunjukkan Arah Baru Geopolitik Dunia

BEIJING, JAGOK.CO – Parade militer terbesar dalam sejarah China tahun 2025 resmi digelar di Beijing dan langsung dipimpin Presiden Xi Jinping. Perhelatan ini bukan sekadar pamer kekuatan militer, melainkan panggung politik global yang sarat pesan strategis. Momentum tersebut juga menandai 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II, sekaligus memperlihatkan ambisi China untuk menantang dominasi lama Amerika Serikat dan sekutunya.

Lebih dari 25 pemimpin dunia hadir, sebagian besar berasal dari Asia, Afrika, hingga Amerika Latin. Dari Indonesia, Presiden Prabowo Subianto menempati panggung utama bersama Presiden Rusia Vladimir Putin dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, mempertegas arah baru poros diplomasi yang tengah dipamerkan Beijing. Kehadiran tiga sosok itu menjadi simbol kuat munculnya koalisi non-Barat di panggung global.

Absennya Barat, Kehadiran Selatan Global

Kontras mencolok terlihat dari ketidakhadiran Amerika Serikat, negara-negara Eropa, Jepang, India, dan Korea Selatan. Sebaliknya, daftar tamu kehormatan diisi oleh pemimpin Asia Tengah, Timur Tengah, hingga Afrika. Nama-nama seperti Alexander Lukashenko (Belarus), Masoud Pezeshkian (Iran), Anwar Ibrahim (Malaysia), Luong Cuong (Vietnam), hingga Emmerson Mnangagwa (Zimbabwe) turut meramaikan panggung.

Absennya Barat memberi pesan jelas: China ingin membangun blok kekuatan baru bersama negara-negara Selatan global. Bagi Indonesia, kehadiran Prabowo menandakan sikap aktif menjaga keseimbangan diplomasi di tengah rivalitas besar kekuatan dunia.

Xi Jinping: Dunia Hadapi Pilihan Perang atau Damai

Dalam pidato tegasnya, Xi Jinping menyebut dunia tengah menghadapi persimpangan besar.

“Dunia menghadapi pilihan antara perang dan damai. China adalah bangsa besar yang tidak pernah tunduk pada pembuli,” ujar Xi, dikutip dari The Guardian.

Xi juga menyinggung “rejuvenasi bangsa China”, istilah yang merujuk pada ambisi penyatuan Taiwan. Pernyataan itu langsung memicu respon keras dari Presiden Taiwan Lai Ching-te. Ia menegaskan rakyat Taiwan menghargai perdamaian, namun menolak tekanan yang datang dengan “laras senjata”.

Unjuk Kekuatan Militer China

Selain diplomasi, parade ini menampilkan alat tempur mutakhir, mulai dari jet tempur J-15 DT, rudal balistik antarbenua berbasis kapal selam, sistem anti-drone, hingga rudal nuklir DF-5C. Menurut para pakar militer, unjuk senjata ini merupakan bagian dari strategi propaganda, tetapi juga menegaskan bahwa kemampuan militer China tidak boleh diremehkan.

Jennifer Parker dari UNSW Canberra menegaskan, “Kita tidak boleh meremehkan kemampuan militer China – mereka sangat mumpuni.”

Trump Meradang, Dunia Membaca Isyarat Baru

Dari Washington, mantan Presiden AS Donald Trump melontarkan sindiran keras melalui akun Truth Social.

“Sampaikan salam saya kepada Putin dan Kim Jong Un saat Anda berkonspirasi melawan Amerika Serikat,” tulis Trump.

Pernyataan itu menegaskan betapa parade ini sukses mengguncang geopolitik global. Foto Xi Jinping yang berdiri sejajar dengan Putin, Kim Jong Un, dan Prabowo Subianto menjadi simbol kuat bahwa China siap menantang dominasi lama dan membangun tatanan internasional baru.

Indonesia di Panggung Geopolitik Global

Kehadiran Prabowo Subianto dalam parade militer akbar ini menjadi sorotan media asing. Banyak yang menilai langkah tersebut mempertegas posisi strategis Indonesia dalam percaturan politik dunia. Di satu sisi, Indonesia tetap menjaga hubungan dengan Amerika Serikat, namun di sisi lain, kedekatan dengan Beijing menunjukkan sikap independen khas politik luar negeri “bebas aktif”.

Kesimpulan

Parade Militer China 2025 tidak hanya menjadi tontonan megah kekuatan senjata, tetapi juga teater diplomasi internasional. Dengan menggandeng Rusia, Korea Utara, hingga Indonesia, China mengirim sinyal bahwa dunia multipolar semakin nyata.

Pertanyaan besar kini adalah: apakah blok baru ini akan menjadi penantang serius dominasi Barat, atau sekadar simbol sesaat dari kebangkitan China?

Yang jelas, kehadiran Prabowo, Putin, dan Kim Jong Un berdampingan dengan Xi Jinping telah menorehkan babak baru dalam sejarah geopolitik dunia.