Ibeck Soroti Gaya Boros Gubernur Riau, Usul Dana Dialihkan ke Rakyat

Tokoh masyarakat Riau, Sayed Abubakar Asseggaf, mengkritik kebiasaan Gubernur Riau yang dinilai terlalu sering melakukan perjalanan dinas ke Jakarta. Ia menilai kebijakan tersebut boros anggaran dan tidak berpihak pada kebutuhan rakyat.

Ibeck Soroti Gaya Boros Gubernur Riau, Usul Dana Dialihkan ke Rakyat
Sayed Abubakar Asseggaf alias Ibeck saat menyampaikan kritik terkait frekuensi perjalanan dinas Gubernur Riau ke Jakarta yang dinilainya boros anggaran, Kamis (9/6), di Pekanbaru.

JAGOK.CO - PEKANBARU – Tokoh masyarakat Riau, Sayed Abubakar Asseggaf, yang akrab disapa Ibeck, melontarkan kritik tajam terhadap Gubernur Riau Abdul Wahid terkait kebiasaan dinilai terlalu sering melakukan perjalanan dinas ke Jakarta bersama rombongan pejabat Pemprov. Menurut Sayed, frekuensi perjalanan ke ibu kota yang terjadi beberapa kali dalam sebulan itu dinilai bukan hanya tidak efisien, tetapi juga membebani keuangan daerah Riau secara signifikan.

“Sebagai warga biasa, mari kita hitung secara logis: tiket pesawat pulang-pergi, akomodasi hotel, biaya makan, transportasi lokal, dan pos pengeluaran lain untuk satu rombongan perjalanan dinas saja bisa menelan biaya antara Rp50 juta hingga Rp100 juta. Itu baru satu kali perjalanan. Jika dilakukan dua hingga tiga kali dalam sebulan, bayangkan berapa ratusan juta rupiah uang daerah yang tersedot hanya untuk mobilitas pejabat,” kata Sayed dalam keterangannya di Pekanbaru, Kamis (9/6).

Ia menilai bahwa di tengah kondisi masyarakat yang masih dililit kesulitan ekonomi pasca-pandemi, perilaku pemborosan seperti ini sangat tidak patut dilakukan oleh kepala daerah. Menurutnya, anggaran sebesar itu jauh lebih bermanfaat jika dialihkan untuk program bantuan langsung kepada masyarakat, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi pelajar, bantuan perlengkapan sekolah, atau peningkatan layanan kesehatan dasar di daerah terpencil.

“Dengan asumsi satu porsi makan bergizi seharga Rp15.000, dana Rp100 juta bisa menyuplai makanan sehat untuk lebih dari 6.000 siswa sekolah. Dan itu baru dari satu kali perjalanan. Jika ini terjadi rutin setiap bulan, bisa dibayangkan betapa besar potensi dana miliaran rupiah APBD yang terbuang hanya untuk perjalanan ke Jakarta, bukan untuk pelayanan publik,” tambah Sayed dengan nada prihatin.

Sayed juga menyoroti bahwa di era digital saat ini, sebagian besar rapat kerja pemerintahan dan koordinasi antarlembaga sudah dapat dilakukan secara daring. Karena itu, menurutnya, alasan kehadiran fisik ke Jakarta dalam frekuensi tinggi tidak lagi relevan dan justru menunjukkan pola kepemimpinan yang tidak efisien.

“Ini soal gaya kepemimpinan. Seorang pemimpin yang bijaksana tahu kapan harus hadir secara langsung, dan kapan cukup memimpin dari daerah. Kalau setiap bulan harus bolak-balik ke ibu kota dengan membawa rombongan besar, itu bukan efisiensi—itu pemborosan,” ujarnya tegas.

Untuk itu, Sayed mengajak Gubernur Riau Abdul Wahid dan seluruh jajaran di Pemerintah Provinsi Riau agar segera mengevaluasi ulang skala prioritas penggunaan anggaran daerah, serta memastikan setiap rupiah benar-benar berdampak untuk rakyat kecil.

“Rakyat di bawah masih berjuang untuk kebutuhan dasar. Jangan sampai uang mereka terkuras demi membiayai perjalanan dinas elite birokrasi yang tidak punya dampak langsung. Wibawa seorang pemimpin daerah tidak diukur dari seberapa sering ia muncul di Jakarta, melainkan dari seberapa nyata ia hadir di tengah rakyatnya,” pungkas Sayed Abubakar Asseggaf.