Bupati Kuansing: Malam Layur Jalur Dayang Malini Simbol Kebersamaan dan Gotong Royong
Bupati Kuansing Suhardiman Amby menegaskan malam layur jalur Dayang Malini bukan sekadar prosesi adat, melainkan simbol kebersamaan, gotong royong, dan warisan leluhur yang harus dijaga sebagai identitas budaya Kuantan Singingi.
JAGOK.CO – TELUK KUANTAN – Malam Layur Jalur Dayang Malini kembali menjadi momentum bersejarah bagi masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau. Tradisi sakral yang terus dilestarikan turun-temurun ini bukan hanya sebatas prosesi budaya, tetapi juga simbol persatuan, gotong royong, dan cinta akan warisan leluhur yang tak ternilai.
Bupati Kuansing, Dr. H. Suhardiman Amby, A.Md, Ak, MM, yang hadir langsung di tengah masyarakat, menegaskan pentingnya menjaga marwah tradisi malam layur jalur agar tetap hidup dalam denyut nadi generasi sekarang maupun mendatang.
Statement Bupati Kuansing: Layur Jalur Wujud Kebersamaan
"Malam layur jalur bukan sekadar prosesi adat, tetapi sebuah ruang kebersamaan yang mempertemukan seluruh elemen masyarakat dalam satu ikatan gotong royong. Di sinilah terlihat betapa kuatnya persatuan kita, karena setiap orang memberi peran, tenaga, dan hati demi menjaga marwah budaya yang diwariskan leluhur," ujar Bupati Suhardiman penuh semangat.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Jalur Dayang Malini, maupun jalur-jalur lain yang ikut dilayur, merupakan simbol perjuangan, kerja sama, dan kebanggaan kolektif masyarakat Kuansing.
"Saya percaya, selama tradisi ini kita jaga dengan kebersamaan dan cinta, Kuansing akan selalu kokoh berdiri sebagai tanah budaya yang disegani. Mari kita rawat warisan ini, bukan hanya untuk kita hari ini, tetapi juga untuk generasi yang akan datang," tegasnya.
Malam Layur Jalur Kuansing 2025: Warisan Budaya yang Hidup
Tradisi malam layur jalur memiliki filosofi mendalam. Perahu jalur yang panjang dan megah, sebelum siap berpacu di Sungai Kuantan, harus terlebih dahulu melalui proses layur—yakni perawatan, doa, serta penguatan simbolis yang dilakukan bersama-sama.
Ritual ini bukan hanya sekadar persiapan teknis, melainkan juga sarana mempererat silaturahmi dan membangun semangat gotong royong masyarakat. Di sinilah kearifan lokal Kuansing menunjukkan wajahnya: setiap orang, dari anak-anak hingga orang tua, dari pemuda hingga tokoh adat, bahu-membahu menjaga warisan leluhur.
Tradisi Pacu Jalur dan Daya Tarik Pariwisata Riau
Pacu Jalur yang digelar setiap tahun di Sungai Kuantan sudah lama dikenal sebagai event budaya terbesar di Provinsi Riau. Malam layur jalur merupakan salah satu rangkaian sakral yang tak terpisahkan dari pesta rakyat tersebut.
Bupati Suhardiman menyebut bahwa Pemerintah Daerah berkomitmen penuh untuk menjadikan tradisi Pacu Jalur dan seluruh rangkaiannya sebagai daya tarik wisata yang mendunia.
"Tradisi layur jalur ini adalah kebanggaan kita bersama. Kita akan terus dukung agar Pacu Jalur dan seluruh rangkaiannya bukan hanya menjadi agenda budaya, tetapi juga mampu mendongkrak pariwisata dan perekonomian masyarakat Kuansing," jelasnya.
Gotong Royong: Roh Malam Layur Jalur
Gotong royong menjadi roh yang menjaga tradisi ini tetap hidup. Tak ada sekat sosial, semua warga terlibat—mulai dari mengangkat, membersihkan, hingga merapikan jalur sepanjang puluhan meter. Semangat ini menjadi bukti bahwa masyarakat Kuansing masih teguh menjaga nilai kebersamaan di tengah tantangan modernisasi.
Dengan melestarikan malam layur jalur, Kuantan Singingi bukan hanya menjaga identitas budaya, tetapi juga mewariskan pesan luhur tentang arti persatuan, solidaritas, dan kerja sama tanpa pamrih.
Warisan Budaya untuk Generasi Mendatang
Tradisi malam layur jalur menjadi cermin bahwa masyarakat Kuansing tak pernah meninggalkan akar budayanya. Justru, nilai-nilai inilah yang akan memperkuat generasi muda dalam menghadapi arus globalisasi.
Pemerintah daerah bersama tokoh adat, pemuda, dan seluruh masyarakat bertekad menjadikan malam layur jalur tidak hanya sebagai prosesi adat, melainkan juga simbol kejayaan budaya Melayu Kuantan Singingi yang layak dikenal di tingkat nasional bahkan internasional.























