Dedi Mulyadi Kenang Kontroversi Ikat Sunda dan Momen Lucu Bareng Putri
Pertemuan hangat Dedi Mulyadi, Sherly Tjoanda, dan putrinya diwarnai kisah kontroversi ikat Sunda serta momen lucu soal izin kawin dari sang anak.
JAGOK.CO – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kembali mencuri perhatian publik lewat pertemuan akrab yang penuh kehangatan bersama putrinya, Ni Hyang Sukma Ayu, dan Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda. Suasana perbincangan yang bersahaja itu berlangsung santai namun sarat makna, terutama saat membahas pelestarian budaya Sunda dan pengalaman pribadi Dedi dalam mengenalkan kembali nilai-nilai tradisional.
Dalam suasana obrolan ringan, Dedi Mulyadi mengenang masa-masa awal ketika dirinya mulai mempopulerkan kembali pakaian adat Sunda, terutama ikat kepala khas Sunda yang kini telah menjadi identitas visualnya sebagai pejabat publik dari tanah Pasundan.
"Waktu itu orang pakai ikat gini ribut. Aneh, di Sunda tuh bilang ‘sampurasun’ aja ribut," ujar Dedi sambil tersenyum, sebagaimana terlihat dalam video yang diunggah di kanal YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel.
Cerita tersebut merujuk pada periode saat Dedi masih menjabat sebagai Bupati Purwakarta. Ia menjelaskan bahwa langkahnya memperkenalkan simbol-simbol budaya lokal justru sempat menuai kontroversi hebat di masyarakat.
"Ikatnya pakai, ribut pokoknya. Musyrik, kafir, itu didemo, dikejar-kejar waktu itu," lanjutnya mengenang tantangan pelestarian budaya di tengah pandangan yang sempit terhadap warisan leluhur.
Mendengar kisah tersebut, Sherly Tjoanda, Gubernur Maluku Utara, yang ikut menyimak dengan penuh perhatian, bertanya memastikan, "Oh waktu Bupati?"
Dedi pun menjawab, "Iya, waktu itu Bapak bikin ini demo. Wah, dulu belum menguasai media sosial, belum seperti sekarang." Jawaban itu memancing gelak tawa tamu yang hadir, memperlihatkan bagaimana zaman dan persepsi terhadap budaya tradisional Sunda telah mengalami perubahan besar.
Di tengah momen kebersamaan itu, sebuah adegan lucu dan menyentuh terjadi. Putri kecil Dedi, Ni Hyang Sukma Ayu, secara spontan menghampiri meja tempat sang ayah berbincang. Dengan sopan, ia menyalami seluruh tamu termasuk Sherly Tjoanda, menciptakan suasana hangat yang khas dalam lingkungan keluarga.
Momen menarik pun terjadi saat Dedi Mulyadi tiba-tiba bertanya kepada putrinya, "Ayah boleh kawin nggak?"
Dengan polos namun tegas, Ni Hyang menjawab, "Nggak boleh."
Jawaban spontan itu langsung mengundang gelak tawa dan menjadi sorotan tersendiri dalam pertemuan tersebut. Kebersamaan ini memperlihatkan sisi humanis Dedi Mulyadi sebagai ayah, sekaligus memperkuat citra dirinya sebagai tokoh nasionalis yang menjunjung tinggi nilai keluarga dan budaya lokal.
Kisah ringan ini tidak hanya memperlihatkan kekuatan hubungan keluarga, tapi juga menjadi pengingat akan pentingnya konsistensi dalam merawat identitas budaya, bahkan ketika harus menghadapi tantangan sosial dan kritik tajam.























