Pulau Terubuk Bersholawat Peringati Haul Raja Kecik

Ratusan jamaah menghadiri Pulau Terubuk Bersholawat di Kecamatan Bantan, Bengkalis, dalam rangka Haul Sultan Abdul Jalil Rahmadsyah (Raja Kecik) dengan kehadiran Syekh Ahmad Rauni Al-Jailani, keturunan ke-28 Sulthonul Aulia Syekh Abdul Qodir Al-Jailani.

Pulau Terubuk Bersholawat Peringati Haul Raja Kecik
Pulau Terubuk Bersholawat, Hadir Syekh Ahmad Rauni Al-Jailani Keturunan ke-28 Sulthonul Aulia Syekh Abdul Qodir Al-Jailani

BENGKALIS – JAGOK.CO – Nuansa religius dan spirit sejarah Melayu berpadu khidmat dalam kegiatan Pulau Terubuk Bersholawat yang digelar masyarakat Kecamatan Bantan, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka peringatan Haul Sultan Abdul Jalil Rahmadsyah atau Raja Kecik, pendiri Kerajaan Siak Sri Indrapura, pada Jumat malam, 16 Januari 2026, sekitar pukul 19.30 WIB, bertempat di Pulau Terubuk.

Ratusan jamaah dari berbagai daerah tampak memadati lokasi acara. Mereka terdiri dari tokoh agama, tokoh adat, unsur pemerintahan, aparat keamanan, hingga masyarakat umum yang datang untuk bersholawat, berzikir, dan mengenang jasa besar salah satu tokoh penting dalam sejarah peradaban Melayu Riau.

Sultan Abdul Jalil Rahmadsyah, yang lebih dikenal dengan sebutan Raja Kecik, merupakan figur sentral dalam sejarah Melayu. Ia adalah putra Sultan Mahmud Syah II dari Johor dengan Encik Apong. Setelah tragedi wafatnya Sultan Mahmud Syah II, Encik Apong menyelamatkan diri ke Jambi, sementara Raja Kecik kemudian diasuh dan dibesarkan di Pagaruyung, Minangkabau, lingkungan yang turut membentuk karakter kepemimpinan dan kecerdasannya.

Berbekal legitimasi darah bangsawan Melayu dan dukungan politik yang kuat, Raja Kecik kembali ke Johor untuk menuntut haknya atas takhta kerajaan yang kala itu dikuasai oleh Tengku Bendahara. Perjalanan sejarah tersebut kemudian berujung pada berdirinya Kerajaan Siak Sri Indrapura pada tahun 1723 di Buantan, Riau, sekaligus memindahkan pusat kekuasaan Melayu dari Johor ke wilayah pesisir Sumatra.

Selama masa pemerintahannya (1723–1746), Raja Kecik dikenal sebagai pemimpin visioner dan strategis. Ia berhasil memperluas wilayah kekuasaan Kerajaan Siak, membangun sistem pertahanan dan armada laut yang disegani, serta menguasai jalur perdagangan penting, termasuk perdagangan timah di Pulau Bangka. Di bidang keagamaan, Raja Kecik juga meninggalkan jejak kuat dengan mendorong syiar Islam dan membangun masjid-masjid di berbagai wilayah kekuasaannya.

Raja Kecik wafat pada tahun 1746 dan dimakamkan di Buantan. Estafet kepemimpinan Kerajaan Siak kemudian dilanjutkan oleh putranya, Sultan Muhammad Abdul Jalil Muzaffar Syah. Warisan kejayaan Kerajaan Siak hingga kini menjadi fondasi penting dalam pembentukan identitas sejarah dan kebudayaan Melayu, khususnya di wilayah Provinsi Riau pascakemerdekaan Indonesia.

Penggagas kegiatan sekaligus Bendahara Panitia, Solihin, menegaskan bahwa peringatan haul ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan bentuk tanggung jawab moral dan historis generasi penerus Melayu Riau.

“Sebagai generasi penerus yang hidup dan menetap di Provinsi Riau, sudah menjadi kewajiban kita untuk mengenang Sultan Abdul Jalil Rahmadsyah setiap tahun. Selama ini, sosok beliau seolah terlupakan, padahal jasa dan kontribusinya sangat besar dalam membangun peradaban Melayu dan Islam di Riau,” ujar Solihin.

Ia juga mengutip pesan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Menurutnya, tanpa mengenang dan memahami peran tokoh-tokoh masa lalu, generasi hari ini akan kehilangan arah dan jati diri.

Momentum religius tersebut semakin bermakna dengan kehadiran Syekh Ahmad Rauni Al-Jailani, keturunan ke-28 Sulthonul Aulia Syekh Abdul Qodir Al-Jailani, yang hadir bersama rombongan. Kehadiran ulama kharismatik ini menjadi magnet spiritual dan memperkuat nilai keislaman dalam kegiatan bersholawat tersebut.

Turut hadir para Rais dan pengurus Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) Kabupaten Bengkalis, pimpinan Pondok Pesantren Nurussalam, Darussalam, dan Popshol Al Burdah Senggoro, serta pimpinan Majelis Ilmu dan Alam Al Burdah Baa Khaalis.

Dari unsur pemerintahan dan institusi negara, tampak hadir Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Provinsi Riau, Staf Ahli Bupati Bengkalis Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik, Kapolres Bengkalis dan Dandim 0303 Bengkalis yang diwakili, Danlanal Kabupaten Bengkalis, perwakilan GP Ansor dan Muslimat Kabupaten Bengkalis, Camat Kecamatan Bantan, serta Penjabat Kepala Desa Muntai Barat beserta perangkat desa.

Kegiatan Pulau Terubuk Bersholawat ini diselenggarakan oleh JATMAN Kabupaten Bengkalis bekerja sama dengan Koperasi Ikatan Pemuda Peduli Lingkungan, sebagai wujud sinergi antara dakwah, pelestarian sejarah, dan penguatan budaya Melayu Islami di Bumi Lancang Kuning.

Melalui kegiatan ini, diharapkan nilai-nilai perjuangan, spiritualitas, dan kearifan lokal yang diwariskan oleh Raja Kecik dan para ulama besar dapat terus hidup dan menjadi pedoman bagi generasi masa kini dan masa depan.