UE: Tak Ada Bukti Hamas Curi Bantuan Gaza
Komisi Eropa menegaskan tidak ada bukti Hamas mencuri bantuan kemanusiaan di Gaza, membantah tuduhan AS dan Israel. Lebih dari 170 lembaga global desak distribusi dikembalikan ke PBB.
JAGOK.CO – GAZA, TIMUR TENGAH – Komisi Eropa menegaskan tidak ditemukan bukti bahwa kelompok Hamas mencuri atau menyalahgunakan bantuan kemanusiaan yang disalurkan ke Jalur Gaza. Pernyataan ini disampaikan pada Senin (7/7/2025), di tengah meningkatnya tekanan opini global dan tuduhan sepihak dari Israel serta Amerika Serikat terhadap kelompok tersebut.
“Kami tidak menerima laporan bahwa Hamas mencuri bantuan,” ujar juru bicara Komisi Eropa, Eva Hrncirova, dalam konferensi pers siang hari waktu setempat, sebagaimana dikutip dari kantor berita Anadolu. Ia menekankan bahwa Uni Eropa tetap memegang prinsip kemanusiaan yang netral, independen, dan tidak berpihak dalam konflik.
Situasi kemanusiaan di Gaza, menurut Hrncirova, kini berada pada level yang ia sebut sebagai “katastrofik dan sangat, sangat kompleks.” Meski dihadapkan pada berbagai tantangan, Uni Eropa disebut telah menyiapkan infrastruktur distribusi dan mekanisme pemantauan yang dapat memastikan bantuan tepat sasaran kepada masyarakat sipil Gaza yang terancam kelaparan.
Uni Eropa juga menolak keterlibatan dalam Gaza Humanitarian Foundation—lembaga distribusi bantuan yang diluncurkan Israel dan AS pada 27 Mei 2025—karena dinilai tidak transparan dan penuh konflik kepentingan. “Kami tidak bekerja sama dengan Gaza Humanitarian Foundation,” tegas Hrncirova. “Bantuan kemanusiaan tidak boleh diprivatisasi, tidak boleh dipolitisasi, dan tidak boleh dijadikan alat konflik.”
Keberadaan Gaza Humanitarian Foundation menuai kontroversi karena dalam dua bulan terakhir, ratusan warga Palestina tewas di lokasi distribusi bantuan akibat serangan udara dan penembakan militer Israel, berdasarkan data pejabat PBB dan pantauan lembaga internasional.
Sebanyak lebih dari 170 organisasi kemanusiaan global, termasuk UNRWA, Oxfam, Amnesty International, dan Médecins Sans Frontières (MSF), telah menandatangani pernyataan bersama yang mendesak penghentian skema distribusi ala Israel yang dianggap “mematikan.” Mereka menyerukan agar koordinasi bantuan kemanusiaan di Gaza dikembalikan sepenuhnya kepada sistem yang dikelola dan diawasi PBB.
Komisi Eropa juga mendesak keras Israel agar membuka jalur akses bagi para mitra kemanusiaan Uni Eropa, agar bantuan dapat menjangkau seluruh warga sipil Gaza yang kini mengalami krisis pangan akut dan keterbatasan akses kesehatan.
Sejak pecahnya konflik besar pada Oktober 2023, lebih dari 57.000 warga Palestina dilaporkan tewas akibat serangan Israel di Gaza. Mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak. Blokade total, serangan udara intensif, dan penghancuran infrastruktur sipil menyebabkan kondisi mirip kelaparan massal di wilayah tersebut—memunculkan seruan global untuk gencatan senjata dan bantuan darurat berskala besar.























