Bayu Prayoga Lawan Kanker Nasofaring dan Tumor Mandibula, Keluarga Buka Donasi untuk Biaya Pengobatan

Bayu Prayoga, pemuda asal Kuantan Singingi, Riau, berjuang melawan kanker nasofaring dan tumor mandibula yang dideritanya sejak kecil. Keluarga membuka donasi untuk membantu biaya pengobatan, nutrisi, dan kebutuhan hidup selama perawatan di Jakarta.

Bayu Prayoga Lawan Kanker Nasofaring dan Tumor Mandibula, Keluarga Buka Donasi untuk Biaya Pengobatan
Bayu Prayoga Berjuang Melawan Kanker Nasofaring dan Tumor Mandibula, Keluarga Harapkan Uluran Tangan Dermawan

TELUK KUANTAN, JAGOK.CO – Di tengah keterbatasan ekonomi yang menghimpit, sebuah keluarga sederhana asal Desa Sawah, Kabupaten Kuantan Singingi, terus berjuang mempertahankan harapan untuk kesembuhan anak mereka, Bayu Prayoga (23 tahun) yang saat ini terbaring lemah akibat penyakit Kanker Nasofaring dan Tumor Mandibula pada bagian pipi yang telah dideritanya selama bertahun-tahun.

Menurut penuturan sang ibu, Reni Novita (46 tahun), perjuangan panjang melawan penyakit ini telah dimulai sejak Bayu masih berusia 9 tahun. Berbagai upaya pengobatan telah dilakukan demi menyelamatkan nyawa putra tercintanya. Bahkan pada tahun 2016, Bayu menjalani pengobatan intensif hingga ke Jakarta selama satu tahun, termasuk serangkaian kemoterapi yang saat itu membuahkan harapan setelah dokter menyatakan kondisinya membaik.

Namun takdir berkata lain. Pada tahun 2018, Bayu kembali mengalami keluhan kesehatan yang awalnya hanya dianggap sebagai sakit gigi biasa. Setelah menjalani pemeriksaan medis lebih lanjut, dokter mendiagnosis adanya Tumor Mandibula yang terus berkembang hingga kini dan semakin memperburuk kondisi kesehatannya.

Selama kurang lebih delapan tahun terakhir, Bayu telah menjalani berbagai pengobatan di sejumlah fasilitas kesehatan, mulai dari RSUD Taluk Kuantan hingga rumah sakit di Pekanbaru. Meski demikian, penyakit yang dideritanya terus berkembang dan kini telah menimbulkan berbagai komplikasi serius.

Kondisi Bayu saat ini sangat memprihatinkan. Penglihatannya mulai kabur, fungsi ginjalnya mengalami penurunan, dan ia sudah tidak mampu mengonsumsi makanan secara normal. Untuk menjaga daya tahan tubuhnya, Bayu harus mengonsumsi susu nutrisi khusus sebanyak sekitar 2.500 cc setiap hari. Harga satu kotak susu mencapai sekitar Rp300.000, belum termasuk kebutuhan obat-obatan, pemeriksaan medis, transportasi, serta biaya hidup selama menjalani pengobatan.

Di sisi lain, ayah Bayu, Restu Prawoto (57 tahun), hanya bekerja serabutan dengan penghasilan sekitar Rp1 juta per bulan. Pendapatan tersebut jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga, terlebih untuk membiayai pengobatan Bayu yang membutuhkan dana besar dan berkelanjutan.

Saat ini keluarga Bayu berada di Jakarta untuk menjalani proses pengobatan lanjutan. Mereka tidak memiliki sanak keluarga di ibu kota yang dapat membantu meringankan beban selama masa pengobatan. Dalam kondisi serba sulit tersebut, keluarga hanya bisa berharap kepada kepedulian masyarakat, para dermawan, lembaga sosial, serta pihak-pihak yang tergerak untuk membantu perjuangan Bayu.

"Kami sangat berharap bantuan dan doa dari Bapak/Ibu sekalian agar anak kami dapat terus menjalani pengobatan. Keterbatasan ekonomi membuat kami kesulitan memenuhi kebutuhan medis yang harus dipenuhi setiap hari. Semoga Allah SWT membalas segala kebaikan para dermawan dengan pahala berlipat ganda," ujar Reni Novita dengan haru.

Mari Ringankan Beban Perjuangan Bayu

Bagi masyarakat yang ingin membantu biaya pengobatan dan kebutuhan hidup Bayu Prayoga selama menjalani perawatan, bantuan dapat disalurkan melalui rekening berikut:

Bank BRI
Nomor Rekening: 0668 0101 7227 532

Setiap bantuan, sekecil apa pun nilainya, akan sangat berarti bagi keberlangsungan pengobatan Bayu dan menjadi harapan baru bagi keluarga yang tengah berjuang menghadapi ujian berat ini.

Selain bantuan materi, keluarga juga memohon doa dari seluruh masyarakat Indonesia agar Bayu diberikan kekuatan, kesembuhan, dan kesempatan untuk kembali menjalani kehidupan normal seperti pemuda seusianya.

"Karena bagi sebuah keluarga, harapan adalah obat yang tidak boleh hilang."

Rilis ini berdasarkan keterangan keluarga Bayu Prayoga dan diketahui oleh Kepala Desa Sawah, Yasdirlan, S.Pd., M.Si.