Penyamaran Usman-Harun di Kapal Begama Berakhir Tragis

Kisah heroik Usman-Harun dalam operasi sabotase Hotel MacDonald di Singapura 1965 berakhir tragis. Penyamaran mereka di kapal Begama terbongkar, hingga akhirnya tertangkap patroli Singapura.

Penyamaran Usman-Harun di Kapal Begama Berakhir Tragis
Penyamaran Usman-Harun Berantakan di Kapal Begama: Kisah Tragis Operasi Rahasia di Singapura 1965

JAGOK.CO – Tanggal 9 Maret 1965 menjadi awal dari sebuah operasi besar yang kelak tercatat dalam lembaran penting sejarah Indonesia dan Singapura. Tiga pejuang tanah air—Djanatin alias Usman bin Haji Mochammad Ali, Harun bin Said, dan Gani bin Arup—mendarat di Singapura dengan misi rahasia: melakukan sabotase di jantung kota, sebagai bagian dari operasi militer era konfrontasi Indonesia-Malaysia.

Mereka bergerak senyap, memetakan titik strategis hingga larut malam. Sasaran utama sudah ditentukan: Hotel MacDonald di Orchard Road, sebuah bangunan ikonik yang kala itu menjadi pusat keramaian, simbol denyut ekonomi Singapura.

Dengan membawa bom seberat 12,5 kilogram, mereka menunggu waktu yang tepat. Tepat pukul 03.07 dini hari, 10 Maret 1965, ledakan dahsyat mengguncang pusat kota. Api membumbung, kaca berhamburan, dan jalanan Orchard Road berubah menjadi lautan kepanikan. Akibat ledakan, tiga orang tewas, 33 luka-luka, puluhan toko luluh lantak, serta kendaraan hancur berantakan.

Di tengah kekacauan itu, ketiga prajurit pemberani tersebut berjalan menjauh dengan tenang, menelan malam seolah tak terjadi apa-apa. Namun, pulang ke tanah air ternyata bukanlah perkara mudah. Penjagaan di seluruh penjuru Singapura diperketat.

Upaya Kabur: Dari Pelabuhan ke Kapal Begama

Untuk menghindari pengejaran, ketiga pejuang itu berpencar. Gani bin Arup memilih jalannya sendiri, sementara Usman dan Harun tetap bersama, bertekad kembali ke pangkalan Indonesia. Mereka menuju pelabuhan dan berhasil menyelinap ke kapal dagang Begama yang berlayar menuju Bangkok.

Dengan penyamaran sebagai pelayan dapur, keduanya berharap lolos dari pengejaran intel dan polisi Singapura. Namun, takdir berkata lain. Pada 12 Maret 1965, kapten kapal Begama menyadari identitas mereka. Penyamaran terbongkar. Dengan suara keras, sang kapten mengusir mereka dari kapal, bahkan mengancam melapor ke polisi bila tak segera turun.

Penangkapan Tragis di Tengah Laut

Tanggal 13 Maret 1965, Usman dan Harun terpaksa meninggalkan kapal. Dalam keputusasaan, mereka melihat sebuah motorboat kecil yang dikemudikan seorang warga Tionghoa. Perahu itu mereka rebut demi menyelamatkan diri dan berharap bisa mencapai Pulau Sambu, wilayah perbatasan Indonesia.

Namun, nasib kembali menguji. Motorboat tersebut mogok di tengah laut. Saat matahari pagi menyingsing, patroli Singapura menemukan mereka. Pukul 09.00 pagi, kedua prajurit itu ditangkap dan resmi menjadi tawanan.

Warisan Perjuangan Usman-Harun

Misi yang awalnya gemilang akhirnya berujung pada penangkapan tragis. Namun, keberanian dan pengorbanan Usman dan Harun tidak pernah padam dalam ingatan bangsa Indonesia. Mereka kemudian dihormati sebagai pahlawan nasional, simbol keteguhan, keberanian, dan pengabdian tanpa batas.

Nama keduanya diabadikan tidak hanya dalam buku-buku sejarah, tetapi juga pada berbagai tempat penting, termasuk KRI Usman Harun (359), kapal perang TNI AL yang menjadi penanda betapa Indonesia tak pernah melupakan pengorbanan anak bangsanya.

Kisah heroik ini menjadi pengingat bahwa sejarah bukan sekadar peristiwa, tetapi juga tentang jiwa-jiwa pemberani yang rela mengorbankan hidup demi bangsa. Penyamaran Usman-Harun memang berakhir di lautan Singapura, namun semangat perjuangan mereka terus hidup dalam ingatan rakyat Indonesia.