Perlawanan Palestina Hambat Laju Pasukan Israel di Gaza
Kelompok perlawanan Palestina seperti Brigade Al-Qassam dan Saraya al-Quds terus melancarkan serangan terkoordinasi yang menghambat gerak pasukan Israel di Gaza, khususnya di Khan Younis, Jabalia, dan Shujaiyah. Analisis militer menyebut taktik ranjau, terowongan, dan Protokol Hannibal kian mendominasi medan pertempuran.
JAGOK.CO – GAZA, TIMUR TENGAH – Perlawanan bersenjata yang digencarkan oleh kelompok-kelompok pejuang Palestina di berbagai poros utama Jalur Gaza terus menunjukkan ketangguhan luar biasa dalam menghadang laju pasukan pendudukan Israel menuju jantung wilayah yang terkepung tersebut.
Pakar militer dan strategi asal Irak, Kolonel Purnawirawan Hatim Karim al-Falahi, mengungkapkan hal ini saat dimintai tanggapan atas video terbaru yang dirilis Brigade Izzuddin Al-Qassam, sayap militer Gerakan Hamas. Dalam video tersebut, terekam jelas bagaimana unit-unit Al-Qassam melakukan gempuran strategis terhadap pasukan dan konvoi militer Israel yang mencoba menerobos masuk ke Kota Khan Younis, salah satu wilayah paling vital di Gaza bagian selatan.
Serangan ini merupakan bagian dari operasi militer bertajuk “Hajara Dawud” atau “Batu-Batu Daud”, yang menurut al-Falahi merupakan salah satu bentuk eskalasi paling terorganisir dalam sejarah konflik Gaza-Israel. Ia menjelaskan bahwa perlawanan Palestina menggabungkan sejumlah taktik pertempuran gerilya modern, seperti peledakan ranjau darat, serangan mortir jarak menengah, serta pemanfaatan jaringan terowongan bawah tanah yang telah dipasangi bahan peledak dengan presisi tinggi.
“Serangan yang tersebar di berbagai poros wilayah Gaza—baik di Khan Younis, Jabalia, Shujaiyah, hingga Abasan—secara efektif memperlambat dan memecah fokus militer Israel,” ujar Al-Falahi. Ia menekankan bahwa tekanan simultan dari berbagai sisi telah menyebabkan ketegangan tinggi dalam barisan komando militer Israel.
Menurut analisisnya, dalam beberapa pekan terakhir, Israel terus memaksakan upaya penguasaan atas wilayah Khan Younis dan bagian utara Gaza dengan target mengendalikan lebih dari 75 persen wilayah Jalur Gaza. Strategi ini, kata Al-Falahi, dimaksudkan untuk memojokkan kelompok perlawanan Palestina dalam zona sempit, sekaligus mengisolasi basis logistik mereka dari masyarakat sipil.
Dalam konteks ini, Al-Falahi juga menyoroti penerapan Protokol Hannibal—doktrin militer Israel yang memungkinkan penggunaan kekuatan ekstrem, termasuk tembakan mematikan, untuk mencegah penyanderaan atau penangkapan tentaranya. Menurutnya, Israel semakin sering dan cepat mengaktifkan protokol tersebut, terutama dalam kondisi genting.
Salah satu kasus yang mencolok terjadi pada 16 Juni 2025 di wilayah al-Qidihat, tepatnya di Abasan al-Kabirah, timur Khan Younis. Dalam insiden ini, Brigade Al-Qassam mengklaim telah berhasil membunuh seorang perwira militer Israel, lalu mencoba menarik jenazahnya ke dalam terowongan. Tak lama kemudian, tentara Israel bereaksi cepat dengan mengaktifkan Protokol Hannibal, dan menggempur area tersebut secara masif.
Sementara itu, perlawanan di medan lain juga tak kalah intens. Di kawasan Bukit al-Muntar, timur lingkungan Shujaiyah, Brigade Al-Qassam melaporkan telah menembak seorang tentara Israel dalam pertempuran jarak dekat. Di waktu bersamaan, Saraya al-Quds—sayap militer Jihad Islam Palestina—meluncurkan rentetan mortir ke arah konsentrasi pasukan dan kendaraan militer Israel di utara Khan Younis, sebagai bagian dari koordinasi lintas faksi perlawanan.
Salah satu capaian signifikan lainnya tercatat pada Jumat pekan lalu, di wilayah timur Jabalia, di mana Al-Qassam mengklaim telah menghancurkan dua tank Merkava, satu kendaraan pengangkut personel, dan satu buldoser militer. Seluruh kendaraan tersebut dihancurkan dengan alat peledak yang telah disiapkan sebelumnya dan dipasang secara cermat di jalur gerak pasukan Israel.
Serangkaian operasi ini menunjukkan bahwa meskipun dalam kondisi blokade dan serangan terus-menerus, kelompok perlawanan Palestina masih memiliki kemampuan tempur signifikan dan strategi yang terukur. Situasi ini menjadi bukti bahwa Jalur Gaza, meskipun kecil secara geografis, tetap menjadi panggung utama dari dinamika konflik berkepanjangan antara penjajahan militer Israel dan perlawanan rakyat Palestina yang tidak pernah padam.























