Teknologi Seluler Generasi ke-5: Tantangan dan Kebutuhan

Artikel ini mengulas kelebihan dan tantangan teknologi 5G dalam mendukung layanan real-time, IoT, dan transformasi digital, serta kendala biaya dan kesiapan infrastruktur di Indonesia.

Teknologi Seluler Generasi ke-5: Tantangan dan Kebutuhan
S.N.M.P. Simamora

JAGOK.CO - BANDUNG, 8 Juli 2025 - Dalam menghadirkan teknologi seluler generasi lanjutan, tantangan utama yang dihadapi adalah bagaimana menyediakan kecepatan akses data tinggi tanpa gangguan, dengan kualitas optimal untuk suara, gambar, dan video.

Jika sebelumnya masyarakat telah familiar dengan era GSM (Global System for Mobile Communications), kini pada tahun 2025, sistem telekomunikasi bergerak telah memasuki babak baru. Teknologi 5G menawarkan fleksibilitas akses data untuk berbagai layanan real-time seperti video-call, video-streaming, live-streaming, serta proses download dan upload. Semua aktivitas ini kini bisa dilakukan dalam waktu kurang dari 30 detik untuk file berukuran 300–400MB, berkat throughput kanal yang mencapai rata-rata 1 Gbps (Gigabit per second).

Dibandingkan dengan generasi sebelumnya, yaitu teknologi 4G, sistem 5G memiliki sejumlah keunggulan. Salah satunya adalah latency yang rendah, yang memungkinkan pengalaman live-streaming tanpa lag, serta jangkauan area (coverage) yang lebih luas—baik di daerah terpencil maupun kawasan padat penduduk seperti kota metropolitan.

Teknologi 5G menggunakan teknik akses jamak NR (New Radio), berbeda dengan 4G yang masih menggunakan LTE (Long-Term Evolution). Perlu diketahui, LTE sendiri merupakan pengembangan dari WCDMA dan CDMA (3.5G), sementara GSM menggunakan teknik akses jamak TDMA (Time Division Multiple Access). Artinya, terjadi transformasi signifikan dalam cara teknologi seluler mengalokasikan frekuensi bagi pengguna.

Seiring berkembangnya ekosistem Internet of Things (IoT), kebutuhan akan layanan berbasis kenyamanan pengguna (customer based-oriented ICT services) semakin meningkat. Di sinilah teknologi 5G menjadi tulang punggung transformasi menuju era Internet of Everything (IoE). Bila 4G hanya menyasar kualitas HD video, maka 5G menyasar kemampuan mendukung massive applications, dengan standar HD di banyak perangkat sekaligus secara simultan.

Namun, adopsi teknologi 5G masih menghadapi hambatan utama, yakni kemampuan masyarakat dalam melakukan migrasi perangkat (mobile-equipment/ME) dari 4G ke 5G. Biaya perangkat 5G yang belum terjangkau menjadi alasan klasik yang harus disikapi secara serius, baik oleh individu maupun perusahaan. Pertanyaan mendasarnya adalah: Apakah 5G sudah menjadi kebutuhan prioritas bagi aktivitas pekerjaan atau bisnis yang dijalankan?

Kesuksesan penerapan 5G ditentukan oleh tiga faktor utama:

  1. Infrastruktur jaringan dan perangkat,

  2. Kesiapan perangkat pengguna (ME), dan

  3. Keterjangkauan biaya (affordability).

Namun, ada satu faktor tambahan yang disebut sebagai "black-horse", yaitu tren. Ketika individu atau perusahaan masih bertahan di era teknologi lama, maka mereka berisiko tertinggal informasi dan mengalami kerugian kompetitif yang signifikan.

Artikel ini ditulis oleh S.N.M.P. Simamora, Dosen IDE LPKIA Bandung, alumni Departemen Elektroteknik ITB Bandung, dan anggota Asosiasi Dosen Indonesia (ADI).


Redaksi Jagok.co
jagokdotco@gmail.com
Bandung, Indonesia

Tayang: 8 Juli 2025