Gaza Darurat Air: 97% Air Tercemar, Warga Terancam Dehidrasi

Krisis air di Gaza memburuk. 97% air tanah tercemar, 75% sumur hancur, dan jutaan warga kekurangan akses air bersih di tengah blokade dan serangan Israel.

Gaza Darurat Air: 97% Air Tercemar, Warga Terancam Dehidrasi
Sumber: Aljazeera.net

JAGOK.CO – GAZA, PALESTINA – Krisis air bersih di Jalur Gaza kini mencapai puncak bencana. Di tengah gempuran militer yang tak kunjung usai, lebih dari dua juta warga sipil Palestina, termasuk anak-anak dan lansia, kini menghadapi kondisi mematikan yang digambarkan sebagai penghausan massal—sebuah istilah yang mencerminkan tragedi kemanusiaan mendalam akibat kekurangan akses terhadap sumber daya paling mendasar: air.

Dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera, juru bicara Pemerintah Kota Gaza, Assem Al-Nabih, menegaskan bahwa krisis ini tidak dapat diselesaikan tanpa dukungan internasional berskala besar. Menurutnya, kekurangan air memang telah lama menjadi persoalan kronis akibat blokade Israel yang telah berlangsung selama lebih dari satu dekade. Namun, serangan militer brutal sejak Oktober 2023 telah menghancurkan hampir seluruh infrastruktur vital, memperparah keadaan menjadi bencana kemanusiaan sistemik.

Infrastruktur Air Jadi Sasaran: Serangan Brutal di Rimal

Pada Sabtu (6/7), militer Israel kembali meluncurkan serangan ke fasilitas air, menargetkan stasiun desalinasi di kawasan Rimal, Kota Gaza. Serangan tersebut menewaskan tiga warga sipil dan melukai sedikitnya 15 orang lainnya. Ini bukan insiden tunggal, melainkan bagian dari pola serangan sistematis yang menyasar infrastruktur dasar, termasuk sumur air, jaringan pipa, dan fasilitas pengolahan air.

Sejak awal agresi, lebih dari 75 persen sumur air hancur, termasuk satu stasiun utama yang selama ini melayani kebutuhan air harian bagi sekitar 10 persen populasi Gaza. Laporan dari Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) menyebutkan bahwa kini pasokan air bersih hanya tersisa 7 persen dari kapasitas sebelum perang.

Air Tanah Tercemar, Pipa Dihancurkan, Warga Terdesak

Realitas di lapangan lebih suram lagi. Lebih dari 97 persen air tanah di Gaza telah tercemar, membuatnya tidak layak konsumsi. Warga Gaza terpaksa bergantung pada air desalinasi dalam jumlah sangat terbatas, atau lebih buruk lagi, menggunakan air yang tidak aman dan berisiko menimbulkan penyakit serius.

Israel juga dituduh telah menghancurkan lebih dari 100.000 meter pipa air di Kota Gaza dan sekitar 2.260 meter di seluruh Jalur Gaza, yang menyebabkan ribuan keluarga kehilangan akses terhadap sumber kehidupan pokok. Serangan ini tidak hanya merusak fasilitas, tetapi juga secara langsung memutus harapan hidup warga sipil, terutama anak-anak yang paling rentan terhadap dehidrasi dan penyakit.

Dehidrasi, Kelaparan, dan Ancaman Epidemi

Pemerintah Kota Gaza menyatakan bahwa sumber air yang tersisa kini hanya mampu memenuhi 50 persen kebutuhan minimum penduduk, belum termasuk puluhan ribu pengungsi internal yang hidup berdesakan di fasilitas darurat.

“Stok bahan bakar habis. Peralatan rusak. Kami tak lagi memiliki kapasitas untuk mengoperasikan sistem air. Yang tersisa hanyalah penderitaan,” ungkap Al-Nabih dengan nada putus asa.

Blokade total sejak Maret 2025 memperparah situasi. Upaya perbaikan selama beberapa bulan terakhir nyaris mustahil dilakukan akibat keterbatasan suku cadang dan larangan impor peralatan teknis. Warga terpaksa menggunakan alat-alat seadanya untuk menambal infrastruktur yang runtuh, seperti membangun peradaban di tengah reruntuhan.

Darurat Air: Gaza Wilayah dengan Akses Air Terendah di Dunia

Laporan gabungan dari UNICEF, Palang Merah, dan UNRWA menyatakan bahwa Jalur Gaza saat ini berada dalam status “darurat air penuh”, dengan akses terhadap air bersih berada di bawah 10 persen dari standar minimum global.

Rosalía Pollen, pejabat UNICEF di Gaza, mengungkapkan bahwa sempat ada harapan pada Oktober 2024 ketika sekitar 600.000 warga mendapat kembali akses air bersih. Namun, harapan itu kembali pupus akibat serangan udara dan pemadaman listrik total yang menghentikan seluruh operasi instalasi desalinasi.

Hingga saat ini, sekitar 1,8 juta orang, lebih dari setengahnya adalah anak-anak, membutuhkan bantuan darurat berupa air bersih, layanan sanitasi, dan fasilitas kesehatan dasar. Para tenaga medis memperingatkan bahwa kondisi ini dapat memicu epidemi penyakit menular seperti kolera, hepatitis, dan diare akut, yang dapat menyebar luas dan membunuh dalam skala besar.

Seruan Global: Air Adalah Hak Asasi Manusia

Dalam situasi yang kian genting, seruan untuk intervensi global yang nyata dan tegas semakin menggema. Gaza tidak hanya membutuhkan simpati dunia, tetapi juga aksi konkret: akses kemanusiaan tanpa hambatan, pengiriman bantuan teknis, dan tekanan internasional terhadap Israel untuk menghentikan serangan terhadap infrastruktur sipil.

“Tidak bisa dibayangkan bagaimana seorang ibu harus menatap anaknya yang menangis kehausan, tanpa bisa memberinya setetes pun air,” tegas Al-Nabih.

Air adalah hak asasi manusia, bukan senjata perang. Namun, di Gaza, hak itu telah dirampas secara brutal—dan dunia tidak boleh tinggal diam.