Gaza Dibantai Saat Dunia Sibuk Iran

Saat dunia fokus pada konflik Israel-Iran, militer Israel diam-diam membantai warga Gaza, memutus internet, dan memperparah krisis kemanusiaan. Seruan global "Jangan Lupakan Gaza" menggema di tengah genosida yang terus berlangsung.

Gaza Dibantai Saat Dunia Sibuk Iran
Warga Gaza mencari sisa bantuan di tengah reruntuhan dan puing-puing bangunan yang dibom, sementara koneksi internet dan komunikasi terputus total akibat serangan militer Israel. Foto ini menggambarkan krisis kemanusiaan ekstrem yang kian memburuk di tengah blokade dan isolasi global.

JAGOK.CO – PALESTINA GAZA – Ketika perhatian dunia sedang teralihkan oleh meningkatnya ketegangan antara Israel dan Iran, serangan brutal militer Israel di Jalur Gaza justru mengalami eskalasi drastis. Dalam hitungan hari terakhir, puluhan warga Palestina dilaporkan gugur, sementara krisis kemanusiaan akibat blokade berkepanjangan semakin memburuk dan menciptakan penderitaan yang tak terbayangkan. Hal ini dilaporkan oleh Quds News Network pada Ahad (15/6), mempertegas bahwa Gaza tengah memasuki fase paling kelam dari sejarah pendudukannya.

Di tengah kekacauan geopolitik yang menyelimuti kawasan Timur Tengah, seruan global bertajuk “Jangan Lupakan Gaza” kembali menggema. Organisasi hak asasi manusia, jurnalis independen, dan aktivis kemanusiaan di seluruh dunia menyerukan agar perhatian masyarakat internasional tidak teralihkan dari tragedi kemanusiaan yang tengah berlangsung di wilayah Palestina yang terkepung tersebut.

Hanya beberapa jam setelah militer Israel meluncurkan serangan udara ke wilayah Iran pada Jumat lalu, tekanan diplomatik terhadap blokade Israel di Gaza dan bencana kelaparan massal yang menyertainya tampak mengendur. Namun, di balik bayang-bayang konflik regional itu, Israel diam-diam meningkatkan intensitas serangan di Gaza, menambah daftar panjang korban sipil tak berdosa.

Menurut laporan yang dikonfirmasi sejumlah media lokal dan internasional, sejak serangan terhadap Iran dimulai, lebih dari 140 warga Palestina tewas dibombardir Israel. Termasuk di antaranya sedikitnya 40 orang yang tengah mengantre bantuan makanan di sekitar pusat distribusi milik Gaza Humanitarian Foundation (GHF)—sebuah organisasi kemanusiaan kontroversial yang menerima pendanaan dari Amerika Serikat.

Kamis lalu, Israel melancarkan serangan strategis terhadap satu-satunya jalur serat optik terakhir di Gaza. Akibatnya, seluruh wilayah Gaza mengalami pemadaman total terhadap layanan internet dan komunikasi telepon rumah. Pemerintah Israel menolak memberikan izin perbaikan hingga Sabtu malam, dan layanan baru pulih sebagian pada malam harinya.

Langkah pemutusan jaringan komunikasi ini dinilai sebagai strategi sistematis Israel untuk mengisolasi Gaza secara menyeluruh dari dunia luar, serta membungkam liputan media atas kekejaman yang sedang berlangsung. Dalam kondisi ketiadaan akses informasi tersebut, warga Gaza tidak dapat menghubungi keluarga, menerima informasi evakuasi, maupun mengetahui lokasi-lokasi distribusi bantuan kemanusiaan yang tersedia.

Kenapa Israel membom jalur internet utama Gaza? Kenapa mereka ingin Gaza terputus total dari dunia luar? Sekarang kami tak hanya kehilangan makanan, air, dan listrik—kami juga kehilangan suara kami,” tulis jurnalis Hind Khoudary dari Gaza dalam unggahan emosionalnya di media sosial.

Warga Tewas Saat Mencari Bantuan: Bantuan Gagal Disampaikan, Nyawa Jadi Korban

Pemutusan komunikasi ini juga berdampak fatal terhadap akses informasi masyarakat. Organisasi GHF yang hanya mengandalkan Facebook sebagai kanal pengumuman, gagal menyampaikan perubahan lokasi distribusi bantuan. Akibatnya, puluhan warga kelaparan datang ke titik distribusi yang sudah tidak aktif. Di lokasi tersebut, tentara Israel melepaskan tembakan. Sedikitnya 15 orang dilaporkan tewas mengenaskan di tempat.

GHF didirikan untuk menggantikan sistem distribusi bantuan yang sebelumnya dikelola Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Namun, kiprah GHF kerap menuai kritik dari komunitas internasional karena ditengarai kurang akuntabel dan terlalu dekat dengan kepentingan asing, terutama AS.

Pada hari yang sama, juru bicara militer Israel mengeluarkan pernyataan resmi bahwa operasi militer di Gaza “akan dilanjutkan dengan kekuatan ekstrem.” Sehari kemudian, militer Zionis mengumumkan perintah evakuasi baru untuk wilayah Khan Younis, kawasan padat penduduk di Gaza selatan.

Kelaparan semakin tak terkendali, pengepungan diperketat, dan mayat berserakan di mana-mana. Kami hidup dalam horor tanpa akhir, dalam isolasi total dari dunia,” tulis jurnalis lapangan Al Jazeera, Anas al-Sharif, dalam laporannya melalui platform X.

Peringatan Keras dari Lembaga HAM: Dunia Jangan Diam

Organisasi hak asasi manusia asal Israel, B’Tselem, merilis pernyataan keras yang menyerukan masyarakat dunia untuk tetap fokus pada tragedi Gaza. “Tetap awasi Gaza, bahkan ketika Israel membuka front baru terhadap Iran. Jangan biarkan perhatian dunia teralihkan. Dalam kekosongan perhatian global, kejahatan perang bisa terjadi secara diam-diam.”

Peringatan tersebut mencerminkan kekhawatiran bahwa Israel dapat memanfaatkan dinamika konflik regional untuk melipatgandakan agresinya di Jalur Gaza—dengan risiko korban sipil yang lebih besar dan penghancuran infrastruktur sipil secara sistematis.

Masyarakat Gaza, yang selama delapan bulan terakhir telah mengalami pembantaian massal, kelaparan ekstrem, dan pengusiran paksa, menyerukan solidaritas global untuk menghentikan apa yang mereka sebut sebagai genosida Palestina yang sedang berlangsung.

“Ketika sorotan dunia tertuju pada serangan Israel terhadap Iran, kekerasan terhadap Gaza tidak berhenti—bahkan semakin intens,” lanjut al-Sharif dalam unggahan terbarunya. “Kita harus mengembalikan fokus dunia ke Gaza, di mana krisis kesehatan semakin mengganas dan kelaparan menghantui setiap rumah. Ini bukan sekadar berita—ini adalah panggilan moral bagi seluruh umat manusia.