Rumbia Punah, Warga Cot Pluh Andalkan Udang dan Sagu

Buah rumbia hilang di Aceh Barat, warga Cot Pluh bertahan hidup dari tangkapan udang sungai dan jual batang sagu serta daun atap rumbia.

Rumbia Punah, Warga Cot Pluh Andalkan Udang dan Sagu
Rumbia di Aceh Barat Tak Lagi Berbuah, Warga Cot Pluh Beralih Tangkap Udang dan Olah Batang Sagu

JAGOK.CO – MEULABOH – Kabupaten Aceh Barat dahulu dikenal sebagai salah satu daerah penghasil buah rumbia terbesar di wilayah barat Provinsi Aceh. Komoditas lokal ini pernah melimpah hingga menjadi barang dagangan rutin yang dibawa para pedagang ke Banda Aceh. Namun kini, keberadaan buah rumbia di kawasan tersebut seakan hanya tinggal kenangan.

Beberapa warga dan pedagang buah di Gampong Cot Pluh, Kecamatan Sama Tiga, Kabupaten Aceh Barat, saat ditemui Topik Publik pada Selasa pagi (9/7/2025), menyatakan bahwa pohon rumbia di daerah mereka telah lama tidak berbuah.

“Sudah 15 tahun buah rumbia tidak lagi berbuah. Sekarang hanya tinggal batang dan daun. Kami pun harus beralih profesi demi bertahan hidup,” ujar salah seorang warga Cot Pluh.

Sebagai bentuk adaptasi, sebagian besar warga kini beralih mencari penghasilan dengan menangkap udang sungai. Mereka menggunakan alat tangkap tradisional seperti bubu payung, yang dipasang malam hari dan diangkat pagi hari dengan sampan.

“Tiap pagi kami bisa dapat sekitar 5 sampai 10 kilogram udang segar. Harga jualnya sekitar Rp12.000 per kilogram. Lumayan untuk menutupi kebutuhan harian,” ungkap seorang warga seraya mengucap syukur di waktu subuh.

Sementara itu, potensi ekonomi dari batang sagu yang dihasilkan pohon rumbia tua juga mulai dimanfaatkan warga. Adi, salah seorang penduduk Dusun Monkulu, Gampong Ladang, Kecamatan Sama Tiga, menyampaikan bahwa batang sagu yang sudah tinggi bisa ditebang dan diolah.

“Batang rumbia yang tinggi disebut batang sagu. Bisa diolah menjadi bahan makanan tambahan, atau dijual sebagai pakan ternak ayam dan itik,” kata Adi.

Menurutnya, harga beli batang sagu saat ini berkisar Rp70.000 per batang. Setelah dipotong-potong, ia menjualnya seharga Rp25.000 per potong kepada para peternak unggas di sekitar Kecamatan Sama Tiga.

Tidak hanya itu, bagian daun dari pohon rumbia juga masih memberikan nilai ekonomi. Daunnya dijahit secara tradisional untuk dijadikan atap rumah atau bangunan tradisional.

“Harga daun atap rumbia sekarang Rp6.000 per gagang. Jadi meskipun buahnya sudah tidak ada lagi, warga masih bisa memperoleh penghasilan dari menjahit daun rumbia,” tambah Adi.

Fenomena hilangnya buah rumbia di Aceh Barat menjadi catatan penting dalam dinamika perubahan ekosistem lokal dan ketahanan ekonomi warga. Di tengah tantangan tersebut, masyarakat tetap menunjukkan daya lenting dan kreativitas dalam mencari sumber nafkah baru, terutama melalui pemanfaatan batang sagu, daun rumbia, dan udang sungai yang kini menjadi tulang punggung ekonomi warga Cot Pluh dan sekitarnya.