Gaza Lumpuh: Rumah Sakit Kolaps, Wabah Ancam Anak-Anak
Sistem kesehatan Gaza kolaps di tengah serangan Israel. Rumah sakit kehabisan obat, meningitis merebak di kamp pengungsi, dan ribuan warga tewas saat cari bantuan. Dunia diminta bertindak sebelum semuanya terlambat.
JAGOK.CO – PALESTINA – Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza memasuki fase paling mematikan. Sistem kesehatan yang tersisa nyaris lumpuh total, di tengah agresi brutal yang terus dilancarkan oleh militer Israel. Direktur Rumah Sakit Lapangan Kementerian Kesehatan Gaza, dr. Marwan al-Hams, memperingatkan bahwa sebagian besar rumah sakit utama kini berada di titik kritis akibat kelangkaan ekstrem obat-obatan, alat medis, dan tenaga kesehatan.
Dalam wawancaranya dengan Al Jazeera, dr. al-Hams mengungkapkan kenyataan memilukan. Pasien-pasien yang tiba dari pusat-pusat distribusi bantuan dalam kondisi sangat kritis, dengan luka parah di tubuh bagian atas—cerminan langsung dari kekejaman yang terus dilancarkan tanpa jeda.
“Situasinya sangat mengerikan. Kami dipaksa membagi satu dosis obat untuk dua, bahkan tiga pasien,” ungkap dr. al-Hams dengan nada getir.
Unit perawatan intensif sudah tak mampu menampung pasien. Ruang bedah beroperasi tanpa alat steril yang memadai. Gaza kini tak hanya berjuang melawan rudal dan bom, tetapi juga melawan waktu yang menghantui setiap denyut nadi para korban luka.
Lebih dari sekadar lumpuhnya layanan medis, Gaza kini dihantui ancaman epidemi mematikan. Menurut dr. al-Hams, penyebaran meningitis atau radang selaput otak menjadi ancaman nyata jika dunia terus membiarkan kondisi ini tanpa intervensi serius. Peringatan itu diperkuat laporan dari Kompleks Medis Nasser di Khan Younis yang mencatat 35 kasus meningitis anak, angka yang belum pernah terjadi sebelumnya di kawasan ini.
Para tenaga medis memperingatkan: penyakit ini bisa menyebabkan kerusakan otak, gangguan sensorik, dan disabilitas permanen jika tidak ditangani dengan cepat dan efektif. Ancaman ini diperparah oleh padatnya kamp-kamp pengungsian, buruknya sanitasi, dan lemahnya sistem kekebalan tubuh anak-anak akibat malnutrisi akut dan stres berkepanjangan.
Gaza saat ini mengalami kombinasi mematikan: perang, kelaparan, wabah penyakit, dan runtuhnya sistem kehidupan. Kekejaman tidak hanya terjadi di medan tempur, tetapi juga dalam antrean panjang untuk bertahan hidup. Pemerintah Gaza mengonfirmasi bahwa sejak awal invasi, 580 warga sipil tewas dan lebih dari 4.000 luka-luka saat mencoba mengakses bantuan kemanusiaan. Bahkan, 39 warga lainnya hilang tanpa jejak.
Total korban jiwa sejak 7 Oktober 2023 kini mendekati 190.000 warga Palestina, mayoritas perempuan dan anak-anak. Di antara mereka, lebih dari 11.000 orang masih hilang, diduga terkubur di bawah reruntuhan atau tertahan dalam zona konflik. Kelaparan ekstrem juga terus menelan korban, termasuk puluhan balita yang meninggal karena tubuh mereka tak lagi mampu bertahan tanpa asupan gizi.
Ironisnya, di tengah bencana kemanusiaan yang nyata dan nyata ini, dunia internasional belum menunjukkan kekuatan moral yang sebanding. Meski Mahkamah Internasional telah memerintahkan agar perang dihentikan, Israel tetap melanjutkan operasinya—dengan dukungan penuh dan tak terbatas dari Amerika Serikat, baik secara militer maupun diplomatik.
“Kami tidak bicara soal teknologi tinggi atau peralatan canggih. Kami hanya butuh infus, antibiotik, dan tempat tidur untuk menyelamatkan nyawa yang masih bisa diselamatkan,” seru dr. al-Hams, mengirimkan pesan pilu ke dunia.
Di balik angka dan statistik, ada jeritan manusia. Ada anak-anak yang kehilangan masa depan, para ibu yang kehilangan keluarga, dan rakyat Gaza yang tak pernah kehilangan harapan. Dunia tidak bisa terus menutup mata. Sebab di Gaza, kemanusiaan sedang diuji, dan sejarah sedang ditulis dengan darah dan luka-luka yang terbuka.























