Drainase Jalan Paus Pekanbaru Dibangun 366 Meter, Agung Nugroho Targetkan Banjir Berkurang
Pemko Pekanbaru membangun drainase sepanjang 366 meter di Jalan Paus dengan anggaran Rp4 miliar untuk meningkatkan aliran air dan mengurangi risiko banjir di kawasan Jalan Arifin Ahmad.
PEKANBARU, JAGOK.CO — Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru terus memperkuat upaya penanganan persoalan banjir melalui pembenahan infrastruktur drainase di sejumlah kawasan yang selama ini dinilai membutuhkan peningkatan kapasitas saluran air.
Salah satu titik yang menjadi perhatian Pemko Pekanbaru berada di Jalan Paus, Kecamatan Marpoyan Damai. Di kawasan tersebut, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Pekanbaru tengah membangun drainase baru dengan kapasitas lebih besar dan sistem aliran yang dirancang terhubung hingga ke anak Sungai Paus.
Pembangunan infrastruktur drainase ini diharapkan dapat menjadi bagian penting dari langkah pemerintah dalam mengurangi genangan dan dampak banjir, khususnya di kawasan Jalan Arifin Ahmad yang selama ini menjadi salah satu wilayah yang membutuhkan penanganan sistem drainase secara lebih optimal.
Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho turun langsung meninjau progres pembangunan drainase tersebut pada Selasa (1/9/2026). Dalam peninjauan itu, Agung didampingi Kepala Dinas PUPR Kota Pekanbaru Edward Riansyah.
Peninjauan dilakukan untuk melihat secara langsung perkembangan pekerjaan sekaligus memastikan pembangunan berjalan sesuai dengan perencanaan teknis yang telah ditetapkan. Pemerintah juga ingin memastikan pembangunan drainase tersebut benar-benar memberikan manfaat terhadap sistem pengendalian air di kawasan sekitar.
"Karena targetnya mengurangi banjir di Arifin Ahmad," kata Agung Nugroho di sela-sela peninjauan.
Menurut Agung, pembangunan drainase di kawasan tersebut dilakukan karena saluran yang sebelumnya tersedia belum mampu berfungsi secara optimal. Kondisi tersebut membuat aliran air tidak berjalan sebagaimana mestinya, terutama ketika terjadi peningkatan debit air akibat hujan dengan intensitas tinggi.
Selain persoalan kapasitas, sebagian saluran drainase lama juga diketahui tidak tersambung dengan baik. Kondisi ini membuat air tertahan dan tidak dapat mengalir secara lancar menuju saluran pembuangan atau badan air yang menjadi tujuan akhir aliran.
Kondisi tersebut menjadi salah satu persoalan yang perlu dibenahi secara menyeluruh. Sebab, keberadaan drainase bukan hanya berkaitan dengan pembangunan fisik saluran, tetapi juga menyangkut bagaimana sistem tersebut mampu mengalirkan air secara berkesinambungan dari kawasan permukiman dan jalan menuju titik pembuangan.
Di sisi lain, kapasitas drainase lama juga dinilai tidak lagi memadai untuk menampung debit air yang tinggi. Sejumlah bagian saluran mengalami penyumbatan sehingga semakin mempersempit ruang aliran air.
Karena itu, Pemko Pekanbaru mengambil langkah dengan membangun ulang saluran drainase mulai dari persimpangan Jalan Paus-Arifin Ahmad hingga menuju anak Sungai Paus. Pembangunan dilakukan dengan memperbesar dimensi saluran sekaligus memperbaiki konektivitas aliran.
Secara keseluruhan, drainase yang tengah dibangun tersebut memiliki panjang sekitar 366 meter. Saluran baru dirancang dengan ukuran yang jauh lebih besar dibandingkan kondisi sebelumnya, yakni memiliki lebar sekitar 3 meter dengan kedalaman mencapai 1,5 meter.
Dengan dimensi tersebut, kapasitas tampung dan kemampuan aliran drainase diharapkan meningkat sehingga air hujan dapat lebih cepat dialirkan dan tidak mudah meluap ke badan jalan maupun kawasan di sekitarnya.
Untuk merealisasikan pembangunan tersebut, Pemko Pekanbaru mengalokasikan anggaran sekitar Rp4 miliar. Anggaran tersebut menjadi bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam membenahi infrastruktur dasar yang berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat, terutama dalam menghadapi persoalan genangan dan banjir.
Agung mengatakan pembangunan drainase tidak berhenti hanya pada satu titik. Pemko Pekanbaru juga berencana melanjutkan pembenahan pada sisi lain Jalan Paus karena masih ditemukan sejumlah saluran yang telah tertutup maupun tidak lagi berfungsi.
Pembenahan secara bertahap tersebut dinilai penting agar sistem drainase tidak hanya dibangun secara parsial, tetapi dapat terhubung dan bekerja sebagai satu kesatuan. Dengan demikian, air yang berasal dari kawasan sekitar dapat memiliki jalur aliran yang lebih jelas dan tidak terhenti akibat saluran yang terputus.
"Di beberapa titik lainnya juga sedang dalam pembangunan drainase juga. Di Jalan Paus ini, ada tokoh masyarakat yang menyampaikan ternyata dulu drainase itu tertutup. Ketika dibongkar drainase itu di dalamnya sudah padat, ada beton, sampah," terangnya.
Temuan tersebut sekaligus menggambarkan bahwa persoalan drainase di kawasan perkotaan tidak selalu disebabkan oleh keterbatasan ukuran saluran. Kondisi fisik saluran, konektivitas antarsaluran, sedimentasi, material bangunan, hingga sampah yang menumpuk juga dapat memengaruhi kelancaran aliran air.
Karena itu, pembangunan infrastruktur drainase perlu berjalan beriringan dengan kesadaran masyarakat untuk menjaga dan merawat saluran yang telah dibangun. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri apabila infrastruktur yang telah dibangun kemudian kembali mengalami penyumbatan akibat perilaku membuang sampah sembarangan.
Wali Kota Agung Nugroho pun mengajak masyarakat untuk ikut menjaga keberadaan drainase di lingkungan masing-masing. Saluran air yang bersih dan tidak tersumbat dinilai menjadi salah satu faktor penting agar fungsi drainase dapat berjalan maksimal, terutama ketika hujan deras mengguyur wilayah Pekanbaru.
Ia mengimbau warga tidak menjadikan drainase sebagai tempat membuang sampah maupun material lainnya. Menurutnya, saluran yang kembali dipenuhi sampah akan mengurangi kapasitas aliran dan berpotensi menghambat air sehingga persoalan genangan dan banjir dapat kembali terjadi.
"Percuma saja dibangun drainase jika kembali dipenuhi sampah dan dapat menyebabkan banjir," tegasnya.
Pemko Pekanbaru berharap pembangunan drainase Jalan Paus ini dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Selain memperbaiki sistem aliran air, proyek tersebut diharapkan mampu mendukung terciptanya infrastruktur perkotaan yang lebih baik dan meningkatkan kenyamanan masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Upaya tersebut juga menjadi bagian dari pekerjaan rumah pemerintah daerah dalam membangun sistem drainase perkotaan yang lebih terintegrasi. Dengan pembangunan saluran yang memiliki kapasitas lebih besar, konektivitas yang lebih baik, serta dukungan masyarakat dalam menjaga kebersihan, risiko genangan di sejumlah titik rawan diharapkan dapat ditekan secara bertahap.
Pada akhirnya, penanganan banjir membutuhkan lebih dari sekadar pembangunan fisik. Infrastruktur yang memadai harus diikuti dengan perencanaan yang tepat, pemeliharaan berkelanjutan, serta partisipasi masyarakat. Kolaborasi ketiga unsur tersebut menjadi kunci agar investasi pemerintah dalam pembangunan drainase benar-benar menghadirkan manfaat jangka panjang bagi warga Pekanbaru.
























