Wali Kota Pekanbaru Mulai Pembangunan Rumah Bantuan untuk Korban Kebakaran di Marpoyan Damai
Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho meletakkan batu pertama pembangunan rumah bantuan korban kebakaran di Marpoyan Damai. Rumah senilai lebih dari Rp90 juta dibangun melalui kolaborasi Pemko Pekanbaru dan BAZNAS.
PEKANBARU, JAGOK.CO — Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru kembali menunjukkan komitmennya dalam memberikan perhatian kepada masyarakat yang terdampak musibah. Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho secara langsung meletakkan batu pertama pembangunan rumah bantuan bagi korban kebakaran di Jalan Dirgantara, Kecamatan Marpoyan Damai, Selasa (1/9/2026).
Pembangunan rumah bantuan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Kota Pekanbaru dan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Pekanbaru. Sinergi tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan solusi nyata bagi warga yang kehilangan tempat tinggal akibat musibah kebakaran.
Untuk merealisasikan pembangunan rumah tersebut, disiapkan anggaran lebih dari Rp90 juta. Bantuan ini diharapkan dapat memberikan kepastian tempat tinggal bagi Putri bersama adik-adiknya setelah rumah yang selama ini mereka tempati hangus terbakar.
Dalam prosesi peletakan batu pertama, Wali Kota Agung Nugroho tidak sekadar hadir secara simbolis. Ia turut memasangkan batu bata dan semen pada bagian pondasi rumah yang akan dibangun. Kehadiran langsung kepala daerah tersebut menjadi bentuk perhatian pemerintah terhadap kondisi warga yang membutuhkan bantuan.
Rumah yang sebelumnya ditempati Putri bersama adik-adiknya terbakar pada 20 Agustus 2026. Peristiwa tersebut membuat keluarga itu kehilangan tempat tinggal dan tidak memiliki rumah lain yang dapat digunakan sebagai tempat berlindung.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Pemko Pekanbaru. Pemerintah kemudian berupaya mencari skema bantuan yang dapat dilaksanakan secara cepat, tepat sasaran, sekaligus tetap berada dalam koridor aturan yang berlaku.
“Kita tahu banyak korban rumah kebakaran di Pekanbaru, kita coba maksimalkan membantu dengan cara-cara sesuai aturan,” kata Agung usai kegiatan.
Menurut Wali Kota Agung Nugroho, Pemko Pekanbaru memilih menggandeng BAZNAS Kota Pekanbaru agar pembangunan rumah bagi Putri dapat segera direalisasikan. Kolaborasi tersebut dinilai menjadi salah satu langkah yang dapat mempercepat penanganan warga yang membutuhkan tempat tinggal pascamusibah.
Agung mengatakan, kondisi Putri menjadi salah satu alasan kuat pemerintah memberikan perhatian. Putri diketahui sudah tidak memiliki orang tua dan selama ini tinggal bersama adik-adiknya di rumah tersebut. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Putri hanya mengandalkan penghasilan dari berjualan.
“Putri ini orangtuanya sudah tidak ada. Dia tinggal di situ dan tidak tahu mau minta tolong ke mana, karena dia hanya berjualan. Tentu kita yang harus bantu dengan apa yang bisa kita bantu,” ujarnya.
Bagi keluarga korban, kehilangan rumah bukan hanya persoalan kerusakan bangunan. Musibah kebakaran juga dapat memutus aktivitas sehari-hari dan membuat keluarga harus menghadapi situasi sulit untuk memenuhi kebutuhan dasar, termasuk memastikan adanya tempat tinggal yang layak.
Karena itu, pembangunan rumah bantuan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai bentuk bantuan sesaat. Rumah yang dibangun nantinya diharapkan menjadi tempat bagi Putri dan adik-adiknya untuk kembali menata kehidupan setelah kehilangan tempat tinggal akibat kebakaran.
Kepedulian terhadap korban kebakaran tersebut juga tidak hanya datang dari pemerintah. Masyarakat sekitar turut menunjukkan solidaritas melalui gerakan gotong royong dan bantuan secara swadaya.
Warga setempat berhasil mengumpulkan bantuan sebesar Rp20 juta untuk membantu Putri dan keluarganya. Bantuan tersebut menjadi gambaran bahwa persoalan sosial di tengah masyarakat tidak selalu harus ditangani oleh pemerintah seorang diri.
Semangat gotong royong warga juga mendapat apresiasi dari Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho. Menurutnya, dukungan masyarakat merupakan bagian penting dalam membantu warga yang sedang menghadapi kondisi sulit.
Agung menegaskan, Pemko Pekanbaru memiliki anggaran untuk membantu masyarakat, sementara BAZNAS juga memiliki sumber anggaran yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan sosial. Karena itu, kedua pihak berupaya mencari jalur bantuan yang paling cepat dan sesuai dengan ketentuan.
“Kita didukung oleh BAZNAS, karena Pemko juga punya anggaran, BAZNAS juga ada anggaran. Lalu jalur mana ini yang lebih cepat dan sesuai, kita kolaborasikan,” tutupnya.
Pembangunan rumah bantuan bagi Putri tersebut sekaligus memperlihatkan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, lembaga sosial keagamaan, dan masyarakat dalam merespons persoalan kemanusiaan di tingkat lokal.
Di tengah berbagai persoalan perkotaan yang harus ditangani pemerintah, perhatian terhadap warga yang kehilangan tempat tinggal akibat musibah menjadi bagian penting dari pembangunan yang berorientasi pada kemanusiaan. Ketika pemerintah hadir, lembaga sosial bergerak, dan masyarakat bergotong royong, bantuan tidak hanya menjadi angka dalam anggaran, tetapi dapat berubah menjadi harapan baru bagi mereka yang sedang berjuang bangkit dari musibah.
























